Feeds:
Posts
Comments

Miris.

Ya, miris.

Itu yang saya rasakan ketika membaca beberapa artikel berita yang salah satunya saya kutip sebagai berikut:

Siami, ibu dari Al, siswa kelas VI SD Negeri Gadel II, hendak menenangkan diri lantaran masalah yang menderanya akhir-akhir ini. Sejumlah warga dan wali murid sekolah itu menganggap dia mencoreng nama baik sekolah itu. Penyebabnya, lantaran ibu dua anak ini mengungkapkan kasus mencontek massal yang terjadi di sekolah tersebut saat ujian akhir sekolah bertaraf nasional (UASBN) beberapa waktu lalu…

… Pada 8 Juni 2011, puluhan ibu-ibu, terutama wali murid kelas VI, berunjuk rasa di depan rumah Siami. Mereka berteriak-teriak mengusir Siami karena dinilai meresahkan.

Sehari kemudian, saat digelar pertemuan antara Siami dan perwakilan warga di Balai Rukun Warga, massa kembali berteriak-teriak mengusir Siami ke luar dari kampung. “Sejak pertemuan di Balai RW itu dia (Siami) sudah tidak pulang ke sini,” kata Rum, tetangga Siami.
(tempointeraktif.com)

Miris bukan? Sementara dengan gagahnya kita memaki mencaci anggota DPR, pejabat, bahkan presiden karena tuduhan korupsi, kolusi, atau nepotisme, justru ternyata di kehidupan yang nyata kejujuran itu masih sebatas materi di buku pelajaran agama. :(

Saya tak hendak memperkeruh suasana, tapi saya sontak teringat dengan pengakuan seorang siswa yang kala itu sedang mengikuti ujian sekolah. Katanya, beberapa saat setelah ujian dimulai, masuklah SMS dari seorang oknum guru yang isinya adalah kunci jawaban ujian versi si guru. Innalillahi!

Mau tak mau, saya harus menerima kenyataan bahwa kejadian guru “memfasilitasi” siswa untuk lulus ujian dengan segala cara tak hanya terjadi di Tandes. Entah ada di mana lagi, yang jelas tak hanya terjadi di satu tempat. Bila sudah sampai kesini, maka harus kita renungkan kembali esensi dari ujian itu sendiri.

Ujian sejatinya dibuat untuk mengukur kemampuan seorang pembelajar. Dengan ujian, seorang pembelajar bisa mengetahui tingkat perkembangan kemampuannya. Ujian itu kemudian akan menentukan, apakah seorang pembelajar telah mahir dan menguasai materi yang lalu? Bila sudah, silakan lanjutkan dengan materi yang lebih berat. Bagaimana bila belum? Yuk kita ulang pelajaran yang lalu.

Dapat kita simpulkan, ujian sebenarnya hanya bagian dari sebuah siklus sederhana proses belajar:

Siklus Belajar

Pertanyaannya sekarang, mengapa ujian kemudian jadi sarana adu gengsi sarat kecurangan? Bahkan sebagian oknum guru yang selayaknya menjadi tauladan kejujuran justru malah jadi komandan kecurangan? :(

Tentu saja karena paradigma yang sudah ditanam di benak kita sejak kecil itu. Mohon maaf untuk sebagian besar orang tua atau guru, tapi jujur saja ya, anak mana yang tidak didoktrin seperti ini:

“Belajar yang bener, gak lulus ujian malu nanti!”

“Emang kamu mau tinggal kelas? Malu tau!”

“Awas kalo sampe rapot kamu merah! Bikin malu aja!”

atau berbagai varian lainnya.

Malu. Malu. Malu.

Kita dibiasakan untuk menghindari malu karena kegagalan.

Tidak naik kelas lah.. Rapot merah lah.. atau Nilai jelek lah.

We are, unfortunately– extremely, result oriented!

Bukannya malu terhadap ketidakmampuan menguasai apa yang dipelajari. Bukan malu karena tidak belajar dengan giat. Bukan malu karena tidak menempuh proses dengan benar. Bukan, bukan itu yang dibiasakan.

Makanya jangan salahkan anak-anak, kalau kemudian menerima saja “fasilitas” dari guru, orang tua, atau sekolah untuk mencurangi ujian dengan memberi contekan. Karena yang seharusnya mengajarkan benar atau salah itu justru asyik melumuri diri dengan pakaian kebanggaan. Kebanggan dengan prestasi menjulang dan nilai tinggi anak didik walau diraih dengan merusak harga diri.

Akhirnya siklus belajar itu pun dirusak menjadi timpang dan berlebihan:

Sekarang, apa yang bisa kita lakukan menghadapi fenomena ini? Apakah harus ikut arus?

Ngga apa-apa ngga jujur dikit, ya wong yang tua juga ngga jujurnya banyak.”

STOP!

Inilah yang bikin lingkaran setan  tiada habis ujung pangkalnya. Lingkaran yang menghasilkan KKN yang terus kita hujat. Walau tanpa sadar, kita sedang mengembangbiakkannya pada diri atau malah keturunan kita. Naudzubillah dah!

Dari yang kecil jadi membudaya

Lingkaran_Setan_KKN

Balik lagi sebentar ke Ibu Siami yuk. Setelah diusir dari kampungnya apa Bu Siami jadi hancur? :D Hehe,, ternyata tidak. Dukungan kepadanya justru mengalir dari berbagai penjuru. Dia yang dikucilkan kini malah menjadi icon kejujuran. Bisa dibilang, Bu Siami malah mujur. Ngga percaya? nih saya kasih beberapa kutipan artikel-artikel lagi:

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, lembaganya menyatakan dukungan penuh kepada Siami dan keluarga. Peristiwa pengusiran Siami dari kampungnya, menurut Lukman, sangat memprihatinkan.

“Ini mengusik rasa kemanusiaan. Orang jujur seharusnya diberi apresiasi, tidak malah dikucilkan dengan diusir dari kampungnya. Ini sesuatu yang sangat mengancam karakter bangsa kita yang seharusnya kita jaga. Langsung atau tidak langsung, ini juga menyangkut nilai-nilai Pancasila. Kami melihat, masyarakat perlu disadarkan,” kata Lukman, saat dihubungi… (Kompas.com)

—–

President Susilo Bambang Yudhoyono has invited Siami, a mother who alerted authorities to collusive cheating at an elementary school in Surabaya, East Java, to discuss the issue with him at the State Palace. (thejakartapost.com)

——

A public group formed to support Siami, a woman who was ostracized by her community after she alerted authorities to group cheating at her son’s elementary school, says Vice President Boediono will speak at the declaration of their movement on Thursday.(thejakartapost.com)

Terbukti kan. Bu Siami malah banjir dukungan. Tak kalah mujur dari Sinta-Jojo. :D

Sinta-Jojo saja tidak diajak presiden ketemuan di istana. ;)

Jadi, udah deh. Yok, Mulai dari diri kita sendiri.

Mulai dari anak, istri, suami, pacar, adik atau kakak kita sendiri.

Kita kuatkan hati untuk mengucap mantra jujur yang manjur:

Jujur harus dibiasakan sejak bau kencur, bukan cuma untuk orang berumur.

Jujur kalau tak kendur tak akan bikin hancur.

Jujur yang disadur malah akan jadi mujur.

Dan tulisan ini cuma ingin membuktikan, bahwa rasio dan moral kita masih belum gugur. :)

http://www.shutterstock.com/pic-50459146/stock-vector-on-off-switch.html

http://www.shutterstock.com/pic-50459146/stock-vector-on-off-switch.html

Kenapa saya baru menulis lagi?

Nah.. Pertanyaan yang buat saya, jawabannya sangat sulit.

Ya sebenernya ngga ada apa-apa sih.  itulah makanya sulit. :P

Saya sendiri heran, kenapa baru mulai mood menggerakkan tuts keyboard buat nulis lagi sekarang. Nah dari Januari ngapain aja?

Lagi-lagi nyalahin mood, mood, mood. :(

Padahal saya rindu menulis lho..

Rindu tulisan saya dibaca, lalu dikomentari, lalu berdiskusi soal berbagai hal..

Ah,,

Menyesal memang selalu terlambat. Sudahlah, sekarang bagaimana caranya agar saya rajin menulis lagi?

Hehehe..

Sulit juga kan jawabannya?

Simple!

Tolong ingetin dan “marahin” saya ya, kalo udah lama ngga nulis..

Boleh kan? :)

KONGRES

http://rgunturm.blogspot.com/2011/01/legenda-tujuh-kucing-besar-penguasa.html

Sebagai raja hutan dan tokoh paling dihormati di rimba raya, singa memang terbiasa dimintai pendapat dan komentarnya atas berbagai hal yang terjadi pada rakyatnya.

Sebagai contoh, pernah berang-berang meminta pendapat tentang kebiasaan mereka membuat bendungan di sungai yang menyebabkan surutnya air di muara sungai hutano. Di satu sisi berang-berang memiliki hak hidup sebagai rakyat rimba raya untuk membuat bendungan. Tapi di sisi lain, ada hak ikan, buaya, katak, dan beberapa hewan mamalia lainnya yang biasa menggunakan air muara sebagai sumber penghidupan.

Akhirnya sebagai pemimpin yang bijak, singa mengajak hewan-hewan yang terganggu dengan aktivitas bendungan berang-berang untuk membuat cabang sungai kecil dekat hulu sungai hutano. Tak lupa memerintahkan berang-berang untuk mencari sumber mata air tambahan yang dapat menambah debit air sungai. Alhasil berang-berang mendapat “wilayah” baru untuk membuat bendungan tanpa mengganggu hewan lainnya.

Karena keputusannya yang bijak ini, semakin lama singa semakin dipercaya untuk menjadi wasit layaknya lembaga arbitrase. Seekor hakim yang berwibawa lagi dihormati. Warga rimba raya mempercayakan sepenuhnya masalah yang tak terselesaikan di antara mereka.

***

Suatu ketika, ketika sedang beristirahat santai sambil menikmati kudapan siangnya, singa dikagetkan oleh suara derap langkah kaki yang tegap dan ramai. Menurut pengalaman, suara seperti ini adalah suara kuda sumbawa. Langkahnya yang cepat dan tegas memang ciri khas kuda liar dari daratan Nusa Tenggara Barat ini. Nah, biasanya, kuda sumbawa datang terburu-buru ke pusat rimba raya tempat singa tinggal hanya bila ada masalah yang mendesak.

Kebetulan beberapa waktu yang lampau kuda sumbawa pernah ditolong oleh pemburu susu kuda liar yang konon bisa menambah keperkasaan pria. Singa tak peduli, sebagai pemimpin dan pelindung ia tak mau sejengkal pun wilayahnya dinodai dan dilanggar manusia apalagi mengganggu rakyatnya. Dalam hal ini singa sangat tegas. Maka ketika pemburu susu datang, ia mengerahkan satu kompi harimau dan 20 pasukan brigade badak untuk menghalau si pemburu. Tak perlu waktu lama, akhirnya si pemburu kabur tunggang langgang.

Sejak kejadian itu, kuda sumbawa sangat menghormati singa dan merasa berutang budi. Maka dia berjanji pada dirinya untuk menjadi pembantu singa sepanjang hidupnya. Karena kemampuannya adalah berlari cepat, kuda sumbawa memutuskan untuk menjadi pengintai rimba raya. Sebangsa intelijen. Ia akan berlari secepat-cepatnya melapor kepada singa bila ada masalah yang terjadi di hutan dan tak bisa diselesaikan oleh masyarakat sebelum hal-hal anarki terjadi.

Sebab itu, mendengar derap kuda sumbawa dari kejauhan, langsung membuat singa terjaga dari tidur siangnya. Matanya menangkap sosok kuda itu semakin mendekat. Kuda sumbawa akhirnya tiba sembari terengah-engah.

“Yang Mulia,hahh..hah..” nafas kuda masih tersengal-sengal.

Singa tersenyum :) , “tenang sumba, tenangkan dirimu. Ada apa kawan?”

“Ada pertengkaran. Pertengkaran dan kericuhan besar.”

“Oh ya? Baiklah, ayo kita kesana sumba. Kita bantu mereka menyelesaikan masalahnya.”

“Baik Yang Mulia, namun kemana dulu kita akan pergi?

“HAH?” singa terhenyak, “apa maksudmu sumba? ada lebih dari satu kericuhan di rimba raya kita??”

Kuda sumbawa mengangguk, “Benar baginda. Ada dua kelompok yang sedang mengadakan rapat eh konser eh kongres paduka. Dan keduanya berakhir ricuh dan tanpa hasil. Saat ini masih terjadi hujan interupsi dan saling bentak.”

“Alamaaak..apa-apaan ini? Baiklah kongres apa saja itu sumba?”

“Yang pertama kongres pengurus sepak trenggiling rimba raya. Yang kedua adalah kongres pelakon drama rimba raya.”

“Hmm..begini saja. Sumba, kau Pergi ke sarang merpati! Suruh ia mengabarkan kepada seluruh peserta kongres. baik sepak trenggiling atau pun pelakon drama untuk berkumpul di stepa besar utara. Barangsiapa tidak hadir, siap-siap diusir dari rimba raya oleh tentara harimau dan brigade badak. Cepat sumba!”

Kuda sumbawa tanpa berpikir lagi langsung berlari kencang ke arah selatan. Perintah ini perlu segera disampaikan. Sebab, kalau tentara harimau dan brigade badak sudah turun tangan, akan timbul banyak korban di pihak yang melawan.

***

Stepa besar utara sudah ramai ketika singa berjalan ke tengah-tengah. Podium dari bebatuan sudah disiapkan oleh Kuda Sumbawa dan petugas protokoler dari pasukan kerbau. Suasana riuh rendah. Namun masih terdengar jelas ada perdebatan, saling serang kata-kata, dan bahkan sedikit kontak fisik.

Singa menaiki podium, “Semuanya, diaaaaaaam!” Ia lalu mengaum, keras sekali. Jauh lebih keras daripada suara auman singa di akhir film-film produk Metro-Goldwyn-mayer.

Sontak khalayak yang telah berkumpul di stepa besar utara terdiam. Hening tercipta dalam sekejap. Mereka lalu masing-masing tanpa banyak bicara membuat gerombolan-gerombolan untuk mencirikan identitas kelompok yang mereka wakili. Kasat mata, terlihat kelompok kongres sepak trenggiling dan pelakon drama.

“Saya mendengar ada kericuha terjadi di wilayah rimba raya. Sebagaimana kalian tahu, saya menghendaki kedamaian dan kesejahteraan di tanah kita. Setiap permasalahan yang tak terselesaikan akan dibawa ke pengadilan rakyat. Maka, tanpa berlama-lama Pengadilan rakyat akan saya buka!” teriak singa to-the-point, lagi-lagi disertai dengan auman keras. Seandainya Kuda Sumbawa tidak mengenal kebaikan singa, pasti ia sudah lari tunggang langgang.

“Baiklah, peserta kongres sepak trenggiling, maju ke depan!”

beberapa hewan sempat saling pandang. Lalu beberapa hewan maju ke depan. Ada bison, kambing, tikus, dan harimau sumatera tua. Mereka lalu memperkenalkan diri.

“Saya tikus Yang mulia, ketua lama dari Persatuan Sepak Trenggiling Rimba Raya alias PSTRR.”

“Saya bison Yang mulia, perwakilan dari pengurus daerah rimba raya bagian selatan jauh. Saya mewakili kelompok  pendukung calon ketua baru yaitu duet Jenderal Harimau dan Beruang.”

“Saya Harimau Sumatera eks komandan pasukan elit harimau yang juga merupakan garda penjaga rimba raya. Saya ditunjuk oleh Federasi Sepak Trenggiling Dunia untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di PSTRR.”

“Saya kambing Yang Mulia, erwakilan dari pengurus daerah rimba raya bagian timur dekat. Saya hanya menghadiri kongres dan terjebak diantara perdebatan.”

“Baiklah,” singa mendehem. “Sekarang saya mau dengar dari kelompok kongres pelakon drama. Hei kamu, sini maju ke depan.”

Dua ekor hewan maju. Mereka mulai memperkenalkan diri.

“Saya Kelelawar paduka. Ketua baru perkumpulan para pelakon drama rimba raya alias Pekondra. Saya terpilih melalui kongres yang baru saja berlangsung. Namun tampaknya ada yang tidak setuju dengan kemenangan saya.”

“Saya Musang berbulu domba Yang Mulia Raja. Saya adalah pelakon drama senior dan juga mantan Ketua Pekondra. Saya melihat adanya bukti-bukti otentik bahwa Kelelawar telah memalsukan beberapa bukti-bukti dan melakukan penyuapan untuk menjadi ketua Pekondra. Padahal dia tak pernah seperti saya membintang Lakon drama sekali pun, dia hanya aktivis kegiatan ritual malam.”

“Baiklah…” singa mengaum keras.

Seluruh peserta sidang rakyat terdiam. Mental mereka down seketika. Taktik mengaum di tengah-tengah memang menjadi andalan singa untuk meruntuhkan  moral para peserta sidang. Tujuannya agar secara psikologis mereka takut dan pasrah, sehingga tak banyak melawan.

Singa memang tak pintar atau punya gelar doktor, tapi ia cerdas dan mampu menggunakan ketegasan secara tepat sebagai pemimpin. Inilah yang membuatnya sangat disegani di rimba raya.

“Baiklah, sekarang hey tikus. Coba jelaskan masalah kongres mu itu kepada kami semua!”

“Baik Yang Mulia,” tikus maju ke depan kembali. “Saya adalah tokoh yang disebut-sebut tak ahu malu dan diktator dalam memimpin PSTRR. Saya terus ingin mencalonkan diri sebagai ketua. Namun petaka terjadi ketika federasi sepak trenggiling dunia memutuskan untuk menonaktifkan saya dan membuat Satuan Tugas Pemberesan yang dipimpin oleh Harimau Sumatera. Maka saya tak lagi punya kuasa. Saya anggap, federasi sepak trenggiling mempunya otoritas tertinggi. Saya diktator, tapi taat dengan hierarki.”

Tikus lalu mundur kembali, wajahnya tenang dan sesekali tersenyum sinis.

Bison lalu maju.

“Yang Mulia, saya bison mewakili banyak pengurus lain yang mendukung duet Jenderal Harimau dan Beruang. Jago kami tidak diizinkan oleh federasi sepak trenggiling dunia untuk mengikuti pemilihan karena alasan yang tak jelas. Ini sangat aneh, kami tak merasa duet JH-B tidak melanggar aturan apa pun. Kami bersama duet JH-B hanya ingin memajukan persepaktrenggilingan di rimba raya? Apa salahnya bila kami ngotot?”

Bison menahan emosinya dengan segera. Ia melihat singa  sedang mengasah kukunya dengan santai. Perlahan tapi pasti ia maju. Gantian Harimau Sumatera Tua yang maju.

“Yang Mulia, saya adalah ketua Satuan Tugas Pemberesan yang ditunjuk oleh federasi sepak trenggiling dunia untuk menyelesaiakan silang sengkarut yang terjadi. Saya telah berhasil menyelenggarakan kongres untuk mencari pengganti tikus secara demokratis. Namun, apa lacur? Kelompok bison dkk memang tampaknya lebih senang memaksakan kehendaknya. Padahal tikus saja bisa menghormati putusan federasi yang menonaktifkannya. Bayangkan, tikus saja bisa! Saya kecewa sekali paduka.”

Harimau Sumatera Tua lalu mundur kembali. Untuk beberapa saat keadaan hening. Singa tampak berpikir. Matanya menerawang, jauh melewati awan dan langit. Pikirannya sudah mengitari seluruh rimba raya. Sejenak matanya terpejam. Sempat ada yang berpikir, jangan-jangan singa tertidur.

Sekonyong-konyong singa bangkit dari lamunannya. Ia memanggil Kuda Sumbawa. “Sumba! panggil trenggiling ke sini! Bilang padanya, singa meminta ia datang.”

Singa lalu menoleh ke arah kelelawar dan musang. “Hey, kalian sini! Sambil menunggu trenggiling aku ingin memberi kalian masukan mengenai  masalah kalian!”

Para peserta kongres pelakon drama yang lain ikut mendekat. Selain tentunya musang dan kelelawar.

“Kamu..!!” seru Singa sambil menunjuk kelelawar dengan tangannya kakinya.

“Apa sih yang kamu inginkan?”

“Saya..umm..saya..” terbata-bata kelelawar menjawab.

” Nah! Kamu sendiri tidak tahu apa yang kamu inginkan. Kamu hanya ingin prestige kan? Sebagai ketua sebuah organisasi nasional. Besar, hebat, berkuasa. Ya kan?” Singa menyerang kelelawar dengan kata-kata yang tajam.

“Tidak paduka, saya hanya..”

Belum sempat dilanjutkan oleh kelelawar, singa langsung memotong “Lalu kamu pikir dengan melakukan pemalsuan atau pemaksaan atau suap sekali pun kamu bisa mendapat respek dari anggota-anggotamu kelak?? BODOH! Pihak yang tidak memilihmu akan membencimu selama kamu memimpin. Sedangkan pihak yang memilih kamu sebagai ketua, akan selamanya tahu bahwa kamu dan segala kebijakanmu dapat dibeli dengan uang! Betapa rendah harga dirimu itu kawan.”

“Lalu kamu pikir dengan melakukan pemalsuan atau pemaksaan atau suap sekali pun kamu bisa mendapat respek dari anggota-anggotamu kelak?? BODOH! Pihak yang tidak memilihmu akan membencimu selama kamu memimpin. Sedangkan pihak yang memilih kamu sebagai ketua, akan selamanya tahu bahwa kamu dan segala kebijakanmu dapat dibeli dengan uang! Betapa rendah harga dirimu itu kawan.”

Kelelawar hanya menunduk. Kepercayaan dirinya tiba-tiba runtuh. Ia sadar, betapa pun keras melawan, ia memang salah. S-A-L-A-H!

Perlahan musang mendekati kelelawar dan memeluk kelelawar, membesarkan hatinya. “Sudah, kamu tak perlu jadi ketua untuk jadi orang besar. Yuk, bantu-bantu persiapan lakon drama minggu depan. Gimana?”

Kelelawar tersenyum, lalu mereka berdua berbicara dengan akrab. Membicarakan rencana-rencana ke depan.

***

Suasana masih riuh ketika trenggiling berjalan tegap ke stepa besar utara. Khalayak memberi jalan padanya untuk lewat. Singa menyambut trenggiling dengan pelukan hangat, lalu membisikkan beberapa kalimat padanya.

Trenggiling pun mengangguk. Dan berjalan gontai ke atas podium. Suara trenggiling tidak terlalu keras, oleh karenannya singa sudah memerintahkan kuda sumbawa untuk menyiapkan sound system.

Trenggiling mengarahkan mooncongnya ke microphone, mengambil nafas sekejap, lalu mulai bertutur.

“Kawan-kawan masyarakat rimba raya sekalian. Mohon maaf saya mengambil sejenak podium ini. Saya hanya diperintahkan oleh pemimpin kita, Singa, untuk berbicara di sini mengenai perasaan dan pandangan kami semua bangsa trenggiling. Saya tak pandai bermain kata, maka izinkan saya untuk bercerita apa adanya isi hati saya”

Trenggiling terdiam sejenak. Tatapannya menerawang.

“Buat kami bangsa trenggiling, sepak trenggiling adalah kehidupan. Kami menikmati permainan sebagaimana para pemainnya. Kami juga menjadikan sepak trenggiling penghidupan kami. Dalam keluarga, bahkan jika kami terpilih untuk menjadi trenggiling yang akan di sepak dalam sebuah pertandingan, sungguh akan sanagt membanggakan. Saya misalnya, pernah terpilih menjadi trenggiling sepakan pada pertandingan final Copa Rimba Raya..Ohh,, rasanya sangat-sangat membahagiakan.. Semua trenggiling membicarakan pertandingan  dan keberuntunganku yang terpilih menjadi trenggiling sepak di partai sebesar itu.”

Para peserta sidang rakyat menatap trenggiling dengan tersenyum. Mereka memang mengetahui, sepak trenggiling adalah permainan yang sangat digandrungi di Rimba Raya. Bahkan di semak-semak terdalam beberapa hewan muda mulai bermain dengan tunas kelapa sebelum diiizinkan bermain dengan trenggiling sungguhan.

Trenggiling melanjutkan, “Namun pertikaian yang ada pada peserta kongres ini telah membuat muram kehidupan kami. Beberapa trenggiling batal menjadi tontonan karena beberapa pertandingan dibatalkan. Beberapa trenggiling impor dari luar Rimba Raya juga terancam tak bisa melanjutkan karirnya karena pertikaian ini. Bahkan, saya dengar Federasi Sepak Trenggiling Dunia juga ingin memberi sanksi bagi aktivitas trenggiling di rimba raya. Tahukah kalian apa akibatnya? Kami tak bisa dipilih untuk menjadi trenggiling pada partai-partai sepak trenggiling yang bergengsi di tingkat dunia.”

Trenggiling mulai terisak. Singa menepuk-nepuk bagunya seraya menguatkan.

Dengan bercucuran air mata trenggiling melanjutkan, “Dan yang paling membuat saya sedih adalah…”

“pertikaian itu terjadi karena hewan-hewan yang terhormat ini bebrebutan ingin memajukan sepak trenggiling dengan menjadi ketua.”

Trenggiling lalu memeluk singa dan turun dari podium.

Suasana hening. Wajah tikus, bison, harimau sumatera mendadak muram. Terlihat pula kesedihan di hati mereka.

Perlahan bison mendekati harimau, kambing, dan tikus.

Tampak mereka mulai membiacaran hal yang sangat serius.

Tapi tak ada lagi kebencian di tatapan mereka. Bahkan ada terselip tawa dan senda gurau.

Mereka sadar, bukan jabatan ketua yang harus mereka kejar. Apa yang mereka pikir sebagai perjuangan, justru menghancurkan permainan yang sangat mereka cintai itu.

***

04.00

Hari belum masuk Shubuh ketika saya terbangun.

Ahh.. mendadak kekecewaan menggulung-gulung hati. Ternyata hanya bunga tidur yang baru tersaji.

Sayang, tak ada singa di kehidupan nyata kita. :(

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 1,300 times in 2010. That’s about 3 full 747s.

 

In 2010, there were 9 new posts, growing the total archive of this blog to 26 posts. There were 32 pictures uploaded, taking up a total of 5mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was June 1st with 136 views. The most popular post that day was Catatan (pendek) Libur Akhir Pekan (panjang).

 

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, berbagicoretan.wordpress.com, okitya.wordpress.com, twitter.com, and hitungpajak.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for ginjal, logo pssi, kampret, surat pengangkatan direktur, and gambar ginjal.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Catatan (pendek) Libur Akhir Pekan (panjang) May 2010
15 comments

2

Kebun Binatang di Mulut Kita May 2010
11 comments

3

SK Pengangkatan Direktur Desain dan Estetika May 2010
5 comments

4

Gagal Ginjal dan Konflik Palestina June 2010
2 comments

5

Bangga Berbola… June 2010
11 comments


Tsamina mina eh, eh

Waka waka eh, eh

Tsamina mina zangalewa

This time for Africa!!

Lirik lagu Waka-Waka (This Time For Africa) yang dibawakan penyanyi papan atas kelahiran Barranquilla, Shakira sering terdengar dan bahkan berkali-kali tak sengaja disenandungkan oleh banyak orang. Tak heran, lagu yang merupakan lagu tema Piala Dunia 2010 yang saat tulisan ini dibuat sedang dilangsungkan.

Kita semua mahfum tentunya, Piala Dunia adalah event empat tahunan yang selalu menyedot animo masyarakat dunia. Sepakbola adalah olahraga yang bahkan sejak ribuan tahun lalu telah mengakar dan menjadi favorit para penduduk bumi, terutama kaum adam. Apa pasal? Sepakbola adalah olahra yang sangat membumi, ramai karena dimainkan bersama-sama, dan murah. Saya harus tekankan kata murah di sini, karena bahkan hanya dengan menggulung-gulung kertas koran dan mengikatkannya dengan karet, kita sudah mendapatkan sebuah “bola”. Tinggal disepak maka simsalabim jadilah sepakbola.

Nah, karena begitu mengakarnya sepakbola di hampir seluruh bagian dunia maka sepakbola modern pun kemudian bertransformasi menjadi lebih dari sekedar olahraga. Sepakbola telah menjadi industri, komoditas bisnis, ladang mencari nafkah, hobi, seni, hiburan, alat kampanye, komoditas politik, lahan investasi, bahkan di beberapa negara sepakbola sudah disejajarkan dengan agama. Ck..ck..ck.

Buat saya, salah satu yang menakjubkan dari sepakbola adalah bagaimana olahraga kolektif ini dapat membawa kebanggan pada semua komponennya.

Seorang pemain sepakbola bisa menjadi kebanggan keluarga jika ia profesional di bidangnya dan mampu menjadikan sepakbola sebagai hobi sekaligus karir yang mengesankan. Pelatih sepakbola akan menjadi kebanggaan pula bila prestasi tim yang diasuhnya moncer. Para pendukung sepakbola tentunya akan sangat bangga bila tim kesayangannya berhasil menang dan mencetak banyak gol. Para sponsor tentu akan menuai rasa iri dari kompetitornya jika logo mereka terpampang manis di dada para pemain idola.

Sepakbola yang memiliki pengaruh masif juga akan membawa implikasi kebanggaan yang masif pula. Inilah kenapa sepakbola dapat membawa kebanggan yang spesial. Mari kita ambil contoh mudah saja. Saya pribadi lebih mengenal Brazil dan Argentina sebagai ikon negara besar sepakbola dibandingkan variabel khas lainnya.

Dalam dunia yang penuh persaingan ini, bahkan kondisi politik yang morat-marit, keadaan ekonomi yang ngos-ngosan, atau fakta sosial yang bergejolak bisa tenggelam sangat dalam dengan kebanggan terhadap sepakbola. Krisis yang pernah melanda Argentina misalnya, tidak lama diingat orang. Tapi hingga detik ini, banyak orang tentu masih akan menganggap sebagai Argentina negara besar, salah satu negara besar dalam sepakbola. Maka bagaimana rakyat negara berbola tak bangga?

Kebanggan itu akan merepresentasikan bangsa. Sepakbola, yang memiliki tujuan sederhana: memasukan gol lebih banyak dari lawan, telah mampu memoles rasa percaya diri dan cinta tanah air bagi negara-negara yang punya kultur kuat dalam olahraga si kulit bundar ini.

Sebaliknya, jika telah memiliki kebanggan luar biasa karena sepakbola, maka ketika prestasi sebuah tim menurun atau menuai hasil pertandingan yang konyol maka tak heran akan lahir pula rasa malu yang luar biasa. Lihatlah bagaimana tim sepakbola Prancis dan Italia, dua negara dengan koleksi gelar juara dunia di lemarinya tersingkir dari tim yang bisa dikatakan tidak punya sejarah sepakbola yang kuat pada piala dunia tahun ini. Hasilnya? Rasa malu dan kesedihan yang luar biasa bagi masyarakat di negeri mode dan spaghetti.

Kesimpulannya, sepakbola adalah olahraga yang telah menjadi propaganda kultur nasionalisme dan fanatisme. Tinggal bagaimana propaganda tersebut dapat menjadikan sebuah negara semakin kuat, bersatu, dan dapat dibanggakan. Butuh kerja keras demi prestasi yang propagandis. Sehingga akhirnya suatu negara bisa bangga berbola.

Bagaimana dengan Indonesia?

Ah, sudahlah. Ini pertanyaan klise. Bahkan dalam acara nonton bareng Piala Dunia 2010 yang dihadiri Presiden Republik Indonesia dan para menteri, Presideng bertanya “kapan Indonesia tampil di piala dunia?”

Mohon maaf, tapi itu adalah pertanyaan retoris yang menjadi pertanyaan dan harapan semu masyarakat Indonesia sejak masa yang sangat lampau.

Pada dasarnya saya tidak percaya jika Indonesia tidak mampu berprestasi di tingkat dunia. Tidak mungkin diantara 210 juta rakyat indonesia tidak ada yang memiliki bakat sepakbola kuat? Di SMA saja, saya punya teman yang SANGAT LUAR BIASA dalam bermain sepakbola. Itu hanya di sekolah saya. Bagaimana dengan SMA lain? Bagaimana dengan kota lain? Bagaimana dengan provinsi lain? Saya yakin bakat itu ada, bahkan melimpah.

Masalahnya hanya satu: sepakbola indonesia itu SALAH URUS!

Yang ngurusin sepakbola Indonesia...

Yang ngurusin sepakbola Indonesia...

Kita sudah menyaksikan bagaimana pemain-pemain kelas dunia yang dimiliki Prancis dan Italia tak mampu berbuat banyak di Piala Dunia 2010 hanya karena salah urus. Tapi kita juga bisa lihat, bagaimana negara kecil penuh konflik macam Korea Utara bisa melenggang ke pentas dunia meninggalkan negara-negara mapan macam Arab Saudi atau Cina. It is all about management!

Jadi, kalau saya sih sudah enggan menjawab pertanyaan:

Kapan Indonesia bisa masuk piala dunia?

Saya lebih suka bertanya:

Kapan ketua PSSI mengundurkan diri?

Kapan seluruh pengurus PSSI ramai-ramai mundur?

Kapan tokoh-tokoh yang peduli maju dan mereformasi PSSI?

Kapan Indonesia membangun stadion-stadion kelas dunia?

Kapan pembinaan pemain muda menjadi perhatian utama?

Kapan Liga Indonesia menerapkan standar tinggi untuk para pemain asingnya?

Kapan kompetisi yang berkualitas digelar di Indonesia?

Kapan..Kapan..Kapan?

Sayangnya belum jelas jawabannya.

Yang sudah jelas dan saya yakini, INDONESIA JUGA MAU BANGGA BERBOLA!

Kamis, 24 Juni 2010

23.51 WIB

Sesaat setelah melihat rakyat Italia dipermalukan Slovakia. Walau pun begitu masih merasa lebih malu pada sepakbola negeri ini yang diurus oleh orang-orang yang tak berprestasi tapi ngotot tetap pada posisi.

Catatan: Gambar diambil dari sini dan situ

Buat saya, penyakit gagal ginjal atau dalam bahasa medis disebut Renal Failure dan Chronic Kidney Disease tidaklah asing. Nenek dan ayah saya tercinta wafat akibat penyakit yang fatal ini. Itulah mengapa saya cukup akrab dengan gejala gagal ginjal, obat-obatannya, serta dampak dan terapi pengobatannya.

Kurang lebih lima tahun lamanya ayah saya berjuang keras menghadapi penyakitnya itu. Selama itu pula saya dan keluarga mau tidak mau mengenal lebih dekat dan lebih dalam penyakit menurunnya fungsi ginjal ini. Secara umum, gagal ginjal adalah sebuah keadaan dimana kedua ginjal dalam tubuh manusia mengalami penurunan fungsi sehingga  tidak lagi mampu bekerja untuk menyaring pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine. Pada tahap awal, sebagaimana penyakit berbahaya lainnya, gagal ginjal sulit di deteksi kecuali melalui tes ureum dan creatinin di laboratorium. Akibatnya, jika penyakit ini bari diketahui pada stadium lanjut, maka mau tidak mau penderita harus menggantungkan hidupnya pada proses hemodialisa atau lebih dikenal dengan nama cuci darah.

Itulah yang membuat gagal ginjal, untuk saya, sangat mengerikan. Ketika ginjal sudah nyaris tidak berfungsi, maka mau tidak mau posisinya sebagai netralisator racun dalam tubuh harus digantikan dengan mesin. Otomatis, karena ginjal bekerja setiap hari, maka paling tidak mesin harus merapel kerja ginjal tersebut minimal seminggu sekali selama beberapa jam. Pada kasus ayah saya, beliau harus menjalani proses hemodialisa seminggu dua kali. Setiap kalinya memakan waktu lima jam. Terakhir, tak bisa dipungkiri bahwa proses cuci darah ini sangat memakan biaya.

Intinya, gagal ginjal ini berbahaya, nyaris tiada akhir, membawa penderitaan, dan mahal.

***

Hmm,,

Tiba-tiba saya teringat Palestina.

Konflik yang terjadi di tanah Palestina, tentu saja dengan Israel, menurut saya adalah konflik yang memiliki karakteristik serupa dengan penyakit gagal ginjal. Konflik ini berbahaya, tak jua berakhir, membawa penderitaan dan korban yang tak terhitung jumlahnya, dan sangat mahal.

Tragedi penyerangan tentara pemerintah Israel pada kapal misi kemanusiaan Mavi Marmara pada hari terakhir bulan Mei 2010 lalu kembali membuka sejarah panjang nan kelam konflik Palestina-Israel. Puluhan tahun sudah sejak pasukan Israel menduduki wilayah Palestina pada tahun 1918, dilanjutkan dengan pembagian wilayah Palestina oleh PBB, serta perang pada tahun 1948 adalah awal dari keterusiran bangsa palestina dari tanahnya sendiri. Hingga saat ini, belum ada perdamaian sejati antara kedua kubu yag berseteru. Nyaris tiada akhirnya.

Konflik Palestina-Israel, yang merukapan konflik kenegaraan, kemanusiaan, dan bahkan telah menjadi representasi perang ideologi pula. Ini yang menyebabkan perseteruan panjang ini ikut menyeret masing-masing negara pendukung ke dalam konflik terselubung.

Amerika Serikat dan Iran tentu saja adalah kekuatan yang ikut mengalami perang dingin. Amerika dekat dengan Israel sedangkan Iran secara frontal menunjukkan solidaritasnya pada Palestina. Beberapa negara eropa, Turki, Mesir, bahkan Indonesia juga menunjukkan sikap tegas terhadap masalah Palestina-Israel, walau banyak hanya secara verbal belaka. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan suatu hari kelak konflik ini akan meluas dan membawa bangsa-bangsa dunia pada peperangan. Mengapa? Prasayarat sebuah perang besar sudah muncul: konflik berkepanjangan dan perang ideologi. Artinya, konflik ini sangat berbahaya.

Konflik fisik antara Palestina dan Israel jelas telah membawa banyak sekali penderitaan akibat jatuhnya korban secara masif pula. Anak yang kehilangan orang tuanya, orang tua yang kehilangan anaknya, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan banyak lainnya telah banyak menjadi korban perang tanpa akhir ini. Memang benar adanya, bahwa peperangan memang tidak akan membawa suatu masalah kemana pun, kecuali penderitaan dan korban.

Terakhir, saya juga tak dapat membayang kerugian materiil dan immateriil akibat proses perdamaian yang tak kunjung selesai. Biaya perang, biaya penyelamatan korban, biaya proses perdamaian, nyawa yang berjatuhan, kebencian yang merebak, biaya rekonstruksi, dan banyak item lainnya telah menambah daftar panjang jenis biaya yang harus dikeluarkan akibat konflik yang kronis ini. Jelaslah, konflik ini memang sangat mahal.

***

Pemaparan di atas, telah membuat saya mengambil benang merah kesamaan antara konflik Palestina dan gagal ginjal. Permasalahannya kini, bagaimana penyelesaiannya??

Selayaknya gagal ginjal, konflik Palestina juga tidak memiliki obat. Yang bisa dilakukan adalah melakukan penyelamatan medis seperti hemodialisa, tidak menyembuhkan tapi memperpanjang nafas. Upaya perdamaian yang digelar, menurut hemat saya, belum dapat membawa Palestina-Israel pada suatu kesepakatan dan perdamaian. Upaya perdamaian hanya memperpanjang nafas konflik dan keberadaan Israel dalam peta dunia.

Perang berkepanjangan ini, sebenarnya menguntungkan Israel, karena mau tidak mau fokus penyelesaian konflik Palestina dan Israel ada pada kesepakatan kedua negara bukan pada siapa yang berhak dan tidak berhak atas tanah Palestina.

Inilah yang mungkin tidak adil, tapi merupakan suatu keniscayaan.

Walau pun demikian, gagal ginjal juga dapat disembuhkan. Satu-satunya solusi dari  penyakit gagal ginjal adalah transplantasi ginjal. Transplantasi adalah satu-satunya langkah untuk menyembuhkan gagal ginjal secara medis. Ginjal yang lama ditambahkan dengan ginjal yang baru. Akan tetapi ini sangat lah sulit. Mencari donor ginjal dan organ-organ vital tubuh lainnya memang sudah lama diketahui sangat sulit. Mencari donor yang sukarela memberikan sebelah ginjalnya saja tak mudah. Apalagi mencari jenis ginjal yang cocok untuk penderita gagal ginjal. Banyak kasus terjadi, dimana secara medis ginjal donor sangat cocok dengan resipien, namun ternyata tubuh pasien menolak dan akibatnya malah semakin fatal.

Ini pula yang saya lihat pada konflik Palestina. Satu-satunya langkah untuk menyelesaikannya adalah dengan upaya ekstrim seperti transplantasi. Selayaknya transplantasi yang memaksa ginjal baru membantu dua ginjal yang nyaris tak berfungsi, harus ada upaya memaksa terhadap Israel untuk berkomitmen terhadap perdamaian. Menurut hemat saya, harus ada perjuangan komunal dan terorganisir dari negara-negara berpengaruh di dunia untuk mencekik leher Israel sehingga tidak mbalelo. Jika Israel taat, maka tak sulit untuk Palestina untuk patuh pada perdamaian. Masalahnya, negara mana yang mau dan berinisiatif melakukan langkah ekstrim itu?

Sama seperti mencari donor ginjal, sulit tapi bukan tidak mungkin!

Jakarta Pusat,

Jumat, 18 Juni 2010

Tulisan ini bukan merupakan rujukan medis, hanya ditulis berdasarkan pada kerinduan pada ayah dan pada perdamaian yang hakiki.

Picture was tahen from:

http://qizinklaziva.wordpress.com/2009/01/05/damai-itu-adalah/

http://www.britannica.com/EBchecked/topic-art/290349/99762/Cross-section-of-the-right-kidney-showing-the-major-blood

Apa kabar kawan-kawan?

Semoga libur akhir pekan panjang yang baru saja berlalu tidak mematikan sendi-sendi idealisme untuk melanjutkan beraktivitas pada pekan ini. Amiiin..

Bagaimana dengan libur akhir pekan anda? Rasanya ada banyak sekali pilihan untuk menikmati liburan. Ada yang liburan ke luar kota, ada yang berwisata kuliner, ada yang mengunjungi wisata dalam kota, dan masih banyak lainnya.

Saya dan istri kebetulan sama-sama PNS, itu sebabnya libur akhir pekan panjang di akhir bulan tak akan membuat kami mengagendakan liburan yang benar-benar liburan..:D Maklum, akhir bulan adalah masa krisis, bahkan sebelum Yunani mengalami krisis. qeqeqe…

eh, tapi jangan salah, hambatan  akan memaksa manusia untuk berpikir kreatif dan memaksimalkan segala potensi dirinya. Itu yang coba kami resapi. Oleh karena itu, saya dan istri memiliki tekad: Menikmati Liburan! Walau ngga kemana2..hehe

Nah, pada post kali ini, saya akan mereview apa saja yang kami lakukan pada akhir pekan yang lalu dan tentunya pelajaran yang bisa kami petik..

Yuk kita mulai..

Jumat Pagi

Wisata Relaksasi (Tidur dan Bersantai)

Pagi di hari Jumat kami gunakan untuk bersantai, bangun siang, melemaskan otot-otot yang kaku setelah sibuk pada hari kerja. Menghabiskan waktu santai untuk tidur memang cukup jarang kami lakukan mengingat waktu kerja 7.30-17.00..

Hmm,,

Bangun siang ternyata juga asyik sebagai cara merelaksasikan tubuh..

Pelajaran Satu:

Jika ada waktu istirahat sedikit, gunakan sebaik-baiknya untuk menunaikan hajat tubuh agar setelah liburan kita tidak kembali dengan kondisi yang lebih buruk dari saat sebelum liburan.

Biaya: Nol Rupiah

Jumat Siang

Wisata Rohani (Majunya Sang Ustadz Muda)

Nah, ketika hari beranjak siang tentunya tidur tidaklah pantas menjadi pilihan. Apalagi Hari Jumat, tentunya saya harus siap-siap Sholat Jumat. Maka dengan sejurus dua jurus, mandi cibang-cibung, berpakaian (cukup) rapi saya berangkat ke masjid.

Di masjid, saya ambil lokasi duduk di tengah seperti biasa. Namun hari ini ada yang tidak biasa. Saya terkejut ketika tiba-tiba Ustadz hmm sebut saja bunga bukan nama sebenarnya. Eh, tapi bunga mah nama perempuan ya? Oke kalau begitu panggil saja Ustadz Joko. Lanjut yaa.. Saya terjekut melihat Ustadz Joko maju ke depan dan naik ke atas mimbar. Ia bersiap-siap memberikan khotbah.

Loh? Apa yang aneh? Ustadz mau khotbah kan biasa-biasa saja?

Tidak, kalau Ustadz Joko (ingat bukan nama sebenarnya) yang maju ini tidak biasa.

Kenapa tidak biasa? ini yang akan saya ceritakan. Jadi masjid dekat rumah saya termasuk masjid yang agak konservatif. Sehingga kebiasaan-kebiasaannya juga konservatif. Termasuk khotbah Jumat. Biasanya, Khotbah Jumat di masjid itu menggunakan Bahasa Arab. Konon katanya mengikuti Sunnah Rasul yang khotbah juga menggunakan Bahasa Arab.

Saya tidak mau menjelek-jelekan siapa pun di sini, tapi bagi saya hal tersebut sanagt konservatif dan tidak tepat sasaran. Karena tujuan mengikuti sunnah itu tidak diikuti dengan pencapaian tujuan lain, yaitu menyebarkan kebaikan dan dakwah. Saya saksikan sendiri, bagaimana khotnah yang biasanya menggunakan Bahasa Arab itu tidak diperhatikan dan dipedulikan. Jemaah hanya diam saja menunggu khotbah selesai, yang umumnya tidak lebih dari 15 menit. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa (sekali lagi), tapi saya dapat memaklumi perilaku jamaah karena mereka tidak mengerti khotbah yang disampaikan.

Majunya Sang Ustadz Muda

Majunya Sang Ustadz Muda

Nah, Ustadz Joko adalah salah satu tokoh reformis di masjid tersebut. Dia paham jamaah menginginkan agar kebaikan dan manfaat dakwah dapat terasa, oleh karena itu dulu ia pernah mencoba untuk maju. Hasilnya: dia dicemooh. Tak hilang akal, Ustadz Joko lalu memasukkan Kultum di setiap sebelum khotbah. Niatnya baik, agar walau pun khotbah Jumat tidak dapat dimengerti, setidaknya Jamaah tidak pulang dengan kepala hampa.

Tapi kemudian kebiasaan itu juga dihentikan. Entah oleh siapa. Sepertinya Ustadz Joko memang berjuang sendirian. Hingga kemudian Ustadz Muda itu jatuh sakit. Beberapa Minggu ia tidak dapat datang ke Masjid akibat kondisi fisiknya yang kurang baik.

Itu sebabnya, kehadiran Ustadz Joko Jumat siang itu di Masjid, apalagi mengambil posisi khatib dan kemudian berkhotbah dengan Bahasa Indonesia bagaikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah ratusan tahun mengalami penjajahan.

Sebuah letupan inovasi yang dahsyat!

Oleh karena itu, pada Jumat kali ini, saya menikmati sekali dakwah melalui khotbah yang disampaikan di masjid kami itu.

Pelajaran Dua

Perjuangan dan niat tulus pada akhirnya akan membuahkan hasil.  Saya berharap Ustadz Joko dapat melanjutkan kiprahnya dalam mereformasi masjid yang kami cintai ini. =)

Biaya: (masih) Nol Rupiah

Jumat Sore-Malam

Wisata Kuliner Mandiri (It’s Fettucini Time!)

Pulang Sholat Jumat dan setelh leyeh-leyeh sejenak, saya dan istri sepakat untuk pergi ke supermarket. Pasalnya sudah lama saya mendamba Fettucini. Makanan pasta ala Italia ini memang salah satu favorit saya. Tapi berhubung jika beli di restoran harganya mahal apalagi jika dibandingkan dengan porsinya yang suedikit :p, maka istri saya yang tersayang beberapa waktu yang lalu  membrowsing dan mempelajari cara membuatnya via internet. Dan keluarlah kalimat yang menawan itu, “Kita bikin aja yuk!”

Yuhuuu…hehe

Nah, yang perlu kami lakukan sekarang adalah belanja. Maka pilihan kami adalah Ada Swalayan di Jalan Pajajaran Bogor. Ada Swalayan (tanpa bermaksud promosi) cukup dikenal dengan harga yang miring walau pun tidak semiring Carrefour. Karena Carrefour belum menjajah Bogor, maka memilih Ada Swalayan adalah pilihan logis kami saat itu.

Setelah belanja dengan berdasarkan resep yang dimiliki istri saya dengan penyesuaian seperlunya tentunya hehe.. Kami lalu segera pulang.

Saatnya bereksperimen!

Istri saya sebagai chef dan saya sebagai asisten.

Asisten Chef Sedang Beraksi

Asisten Chef Sedang Beraksi

Kami ngubek-ngubek dapur hingga pukul setengah sebelas malam. fyuhh..

Tapi Alhamdulillah, SUKSES!!

Mak Nyooos Banget! =)

Chef Sedang Menunjukkan Keahliannya

Chef Sedang Menunjukkan Keahliannya

Pelajaran Tiga

Ternyata memasak sendiri makanan favorit selain lebih hemat juga dapat semakin meromantiskan komunikasi suami & istri :)

Biaya:

Sekitar 60.000 Rupiah untuk 10 porsi Fettucini, karena kami ingin buat banyak maka jadi 120.000 Rupiah. Bandingkan dengan harga restoran sekitar 36.000-46.000 per porsi mungil.

Sabtu Pagi

Wisata Olahraga (Ayo Main Futsal!)

Sabtu pagi kami isi dengan menyiapkan fettucini lagi. Ini sebenarnya melanjutkan bahan yang masih ada sisa semalam. Karena ada banyak, maka kami bungkus untuk dibawa main futsal.

Yap! Jadwal pagi ini adalah main futsal. Hohoho, ingat ya, jangan mengira saya jago main futsal! Perlu saya ceritakan dulu. Kira-kira beberapa minggu yang lalu saya dan teman-teman yang berolahraga akhirnya melakukan sebuah langkah yang fenomenal. Kami memutuskan untuk mencoba bermain futsal. Beberapa orang nekat ini kemudian menamakan dirinya Amateur Futsal Club. Pelan-pelan kami rekrut orang-orang dengan kualifikasi yang memadai, antara lain:

  1. TIDAK JAGO main futsal
  2. Memiliki visi: Main Futsal HANYA untuk Berkeringat!

hehehe..

Walau pun yang datang setiap pekan paling banyak hanya sepuluh orang, tapi dengan tekad mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olah raga kami turun ke lapangan dan bermain futsal (baca:tendang bola).hehe.. Dan lapangan yang beruntung menjadi saksi kekonyolan kami adalah Lapangan Galaxy Futsal Club.

Lapangan Galaxy Futsal Club

Lapangan Galaxy Futsal Club

Setelah satu jam yang sangat melelahkan, akhirnya pertandingan futsal kami berakhir denga skor 16-16. Pertandingan pun ditutup dengan makan fettucini bersama skuad Amateur Futsal Club hehehe…


Amateur Futsal Club

Pelajaran Empat

Olah raga itu sangat mengasyikkan!

Tetapi makan fettucini setelah main futsal tampaknya tidak disarankan untuk jangka panjang karena justru akan membuat anda tambah gembul. hehee..

Biaya:

Patungan Lapangan 25.000 Rupiah

Beli Minum 4000 Rupiah

Sabtu Siang

Wisata Kuliner (Goes To Selot!)

Setelah bubaran futsal dan selesai beberes badan (alias mandi), saya dan istri melanjutkan perjalanan dengan Tujuan ke Gang Selot. Gang Selot ini adalah gang yang persis terletak di sebelah komplek SMP/SMA 1 Bogor. Tempat jajanan yang murah meriah.

Tapi sebelum sampai disana, kami mampir dulu untuk menikmati es duren di seberang restoran taman palem sonoan dikit..(Sungguh petunjuk geografis yang dangkal..hehe)

Es Duren Yang enaaaaaak!

Es Duren Yang enaaaaaak!

Sayangnya di Selot sudah banyak yang habis, agar tidak kecewa maka kami makan Toge Goreng, Es Alpukat, dan sedikit Molen khas Selot. Yummy!


Pelajaran Lima

Gak perlu mahal sebenarnya kalau jeli untuk berwisata kuliner.

hehe..

Biaya:

Es Duren 7000 Rupiah

Toge Goreng + Es Alpukat 10.000 Rupiah

Molen 600 Rupiah per buah

Sabtu Malam

Relaksasi (lagi)

Sabtu pagi dan siang cukup melelahkan. Kami baru tiba di rumah sore hari. Makanya sisa malam harinya kami habiskan dengan nonton televisi dan tidur cepat. Sebab besok masih ada rencana lain. Hmm,,,

Minggu Pagi-Siang

Run! Run! Read!

Sekitar pukul setengah tujuh pagi saya dan istri sudah siap dengan pakaian olahraga. Kaos, celana training, dan sepatu kets. ck,,ck,,ck macam atlet saja lah. hehe..

Dan dengan semangat membakar kalori, jalan utama Rancamaya yang asri kami tempuh dengan kombinasi Jogging-Jalan-Jogging-Jalan Cepat. Intinya HARUS BERKERINGAT!

Rancamaya Road

Rancamaya Road

Tak lupa sekali lagi kegiatan olah raga ditutup dengan makan Roti bakar. hihihi..

Bakar Kalori lalu Roti Bakar

Bakar Kalori lalu Roti Bakar

Pelajaran Enam

Sekali lagi olah raga itu mengasyikkan dan mengektraksi stress..tapi proses pembakaran kalori akan sia-sia bila langsung disambut dengan makan roti bakar…hehe..

Biaya:

Roti Bakar 2000 Rupiah (Murah Meriaahhh)

Minggu Sore-Malam

Intellectual Charging!

Mari buka daftar to-do list kami..

Hmm.. checked!

Istirahat..checked!

Relaksasi..checked!

Olah raga..checked!

Makan-makan…checked!


Berarti yang belum tinggal mengisi dan me-refresh ulang semangat, mimpi, dan idealisme..

Ini penting banget,

Jangan sampe badan bugar tapi semangat kayak agar-agar!

Makanya Minggu sore dan malam kami habiskan dengan membaca novel yang idealis dan menonton DVD film yang idealis pula..

Karena kebetulan kami belum membaca tuntas tetralogi Laskar Pelangi, maka sore itu saya membaca Edensor dan istri membaca Sang Pemimpi.

Malamnya, Film panjang yang sangat berkelas, My Name Is Khan kami nikmati..

Mantap Hematnya! hehehe…

Pelajaran Tujuh

Dari novel-novel bermutu kami terus berupaya membakar semangat untuk mengajar mimpi. Dan Dari My Name Is Khan kami sadar bahwa idealisme kami masih harus terus disempurnakan. Let’s do those things!

Alhamdulillah,,

Subhanallah,,

Liburan yang tidak terlalu panjang tapi membawa banyak manfaat dan pelajaran. Semoga Allah senantiasa mencurahkan kami dan tentunya kita semua untuk memaknai segala sesuatu sebagai bentuk syukur.

Demikian Laporan Liburan kami..

Sampai bertemu di post-post mendatang,,

Insya Allah..

17.02

31 Mei 2010

Hari Senin di akhir bulan..Sungguh memilukan..

Ditambah dengan mendengar berita kelakuan biadab Israel..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.